Kamis, April 22, 2010

Budidaya Singkong Intensif

Budidaya Singkong Intensif
( Manihot utilissima Pohl. )

Singkong memerlukan syarat tumbuh yang ideal sebagai berikut :

1. Iklim
  • Curah hujan antara 1.500-2.500 mm/tahun.
  • Suhu udara minimal sekitar 10ÂșC.
  • Kelembaban udara optimal antara 60-65%.
  • Sinar matahari sekitar 10 jam/hari.
2. Tanah
  • Struktur tanah remah, gembur, tidak terlalu liat & tidak terlalu porous, kaya bahan organik.
  • Jenis tanah yang sesuai aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumusol, & andosol.
  • PH tanah berkisar 4,5 – 8, dengan pH ideal 5,8.
3. Ketinggian tempat
  • Ketinggian tempat ideal untuk tanaman ketela pohon antara 10–700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10–1.500 m dpl.

A. Penyiapan Lahan
  • Pengolahan tanah paling baik dilakukan pada saat awal musim penghujan (2 mg sd 3 mg setelah hujan pertama turun), agar kondisi tanah cukup lembab dan mudah diolah. Ada beberapa tahap pengolahan tanah yang harus dilalui :
  1. Tanah digemburkan, bisa dicangkul/dibajak untuk areal yang luas dengan kedalaman 60 cm.
  2. Taburkan pupuk organik (kandang/kompos) pada tanah yang telah dibajak dengan dosis 2 kg/pkk (misal populasi 8.000 pkk/ha, maka pupuk organik yang ditaburkan sebanyak 16 ton/ha).
  3. Siram dengan starter organik/pupuk cair mikro organik (Nasa, Golden Harvest, Hantu dll), dengan dosis 2 lt/ha dan konsentrasi 0,5% (2 lt pupuk cair dilarutkan dalam 400 ltr air /ha).
  4. Tanah dibajak lagi untul mencampur/mengaduk tanah dengan pupuk organik yang telah ditabur dengan kedalaman 40 cm.
  5. Buat bedengan, untuk sistem tanam mata lima + single row (1 bedeng untuk 1 baris tanam), lebar 90 cm dan jarak antar bedeng 20 cm (untuk jarak tanam 1,2 x 1,2 m). Untuk mata lima + double row (satu bedeng untuk 2 baris tanam), lebar 2 m dengan jarak antar bedeng 20 cm (untuk jarak tanam 1,2 x 1,2 m).
  6. Tanah dibiarkan selama 3 hari, setelah itu siap untuk ditanami.

B. Penyiapan Bibit
  • Bibit ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut :
  1. Berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
  2. Pertumbuhan normal, sehat dan seragam.
  3. Batang telah berkayu dan mempunyai diameter > 2,5 cm dan lurus.
  4. Batang tersebut belum ditumbuhi tunas-tunas baru.
  • Sekarang ini sudah banyak penyedia bibit berkualitas, jadi kalau mau petani tinggal membeli bibit siap tanam saja.
  • Ada 2 verietas unggul saat ini yang dapat dipergunakan :
  1. Cimanggu Super, produksi 80-100 ton/ha, jarak tanam 1x1 m, populasi 10.000 pkk/ha, jarak tanam 1 x 1 m mata lima, populasi 11.400 pkk/ha.
  2. Darul Hidayah, produksi sd 200 ton/ha, jarak tanam 1,2 x 1,2, populasi 7000 pkk/ha, jarak tanam 1,2 x 1,2 mata lima, populasi 8000 pkk/
    Kedua varietas ini berasal dari stek batang induk, bukan berasal dari tempelan/okulasi, jadi sifatnya dapat diturunkan (batang lama dapat digunakan lagi).

C.Penanaman

  • Sebelum ditaman, stek singkong mengalami beberapa perlakuan, yaitu :
  1. Rendam pangkal stek dalam larutan starter organik/pupuk cair mikro organik (Nasa, Golden Harvest, Hantu dll), dengan konsentrasi 1% (1 lt pupuk cair dilarutkan dalam 100 ltr air), selama 3-4 jam.
  2. Tanam stek dengan berpedoman pada pancang tanam, paling efisien digunakan sistem tanam mata lima + double raw (space yang ada untuk parit dan tanah pembuatan parit tersebut dapat dipakai untuk guludan atau bedengan). Untuk jarak tanam 1,2 x 1,2 m, populasi 7500 pkk.
  3. Tanam stek dengan 1/3 bagian stek tertimbun tanah. Awas jangan terbalik !

D.Pemupukan
  • Waktu dan dosis pemupukan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Jenis Pupuk Waktu Aplikasi Pemupukan Total
15 HST Bln ke-2 Bln ke-3 Bln ke-4 Bln ke-5 Bln ke-6
Urea (kg/ha) 25 - 25 - 50
100
TSP (kg/ha) 100 - - - -
100
KCI (kg/ha) 25 - 50 - 75
150
Total Pupuk 150 0 75 0 125 0 350
Starter Mikro
2 ltr/ha (0,5%)
2 ltr/ha (0,5%)
2 ltr/ha (0,5%) 6 ltr/ha (0,5%)
  • Aplikasi pupuk hendaknya dilakukan pada saat kondisi tanah lembab dan tidak kering terutama aplikasi pupuk urea dan starter mikro, agar pupuk dapat diserap optimal oleh tanaman. Aplikasi KNO3 (Kalium nitrat) dapat dilakukan sebagai pengganti pupuk Urea dan KCI, Aplikasinya dilakukan di bulan ke 3 dan 5, dengan dosis sama dengan dosis total kedua pupuk diatas.

E. Perawatan
  • Tanaman singkong pada dasarnya hanya memerlukan 5 macam perawatan, yaitu :
  1. Penyulaman. Bibit yang mati/abnormal harus dicabut dan diganti dengan bibit baru. Penyulaman dilakukan pada minggu ke-1/ke-2 setelah tanam, lakukan pada pagi/sore hari ketika cuaca tidak terlalu panas. Rotasinya 1 x tiap periode tanam.
  2. Penyiangan. Pengendalian gulma dilakukan pada bulan ke-1, ke-3, dan ke-6, sebelum aplikasi pupuk.
  3. Pembubunan. Dilakukan untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman, sambil memperbaiki bedengan/guludan yang ada, bila tanah disekitar tanaman terkikis terkena hujan sehingga perlu dilakukan pembubunan agar akar tidak kelihatan. Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan sehingga menghemat biaya. Pantangan dalam budidaya tanaman berumbi, akar sama sekali tidak boleh kelihatan ! Pembubunan dilakukan di bln ke-3 sebelum aplikasi pupuk.
  4. Pemangkasan. Pemangkasan/perempelan tunas dilakukan dengan memotong ujung tanaman (membuang daun yg muda) yang bertujuan membentuk cabang/tunas baru dengan jumlah 2-3 cabang. Agar tunas tersebut dapat digunakan lagi pada musim tanam berikutnya. Pemangkasan dilakukan pada bulan ke-4.
  5. Pengairan. Kondisi lahan awal tanam sd 5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan. Sistem yang baik digunakan adalah genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan apabila mengalami musim kering yang cukup panjang (3 minggu tidak hujan) yang terjadi pada periode usia tanaman dibawah 5 bulan.

F. OPT dan Penanggulangannya
  • Beberapa jenis OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang mengganggu tanaman singkong adalah :
  1. Hama Uret (Xylenthropus). Ciri: berada dalam akar dari tanaman. Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak. Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur insektisida berbahan aktif Karbofuran/Karbosulfan pada saat pengolahan lahan
  2. Hama Tungau Merah (Tetranychus bimaculatus). Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut. Gejala: daun akan menjadi kering. Pengendalian: menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.
  3. Penyakit Bercak Daun Bakteri (Xanthomonas manihotis). Disebut juga Cassava Bacterial Blight/CBG. Gejalanya muncul bercak-bercak pada sudut daun lalu melebar dan mengakibatkan daun kering yang akhirnya mati. Pengendaliannya dengan menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun
  4. Penyakit Bercak Daun Coklat (Cercospora heningsii). Penyebab: cendawan yang hidup di dalam daun. Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati. Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.
  5. Penyakit Bercak Daun Konsentris (Phoma phyllostica). Penyebab: cendawan yang hidup pada daun. Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda. Pengendalian: memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit
  6. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith). Ciri: hidup di daun, akar dan batang. Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk. Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.
  7. Gulma. Pada dasarnya pengendalian gulma untuk singkong paling baik adalah dengan manual (mencabut gulma sampai ke akarnya/penyiangan). Pengendalian kimiawi dikhawatirkan dapat mengenai dan merusak tanaman serta berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kandungan umbi. Pengendalian kimiawi dapat dilakukan untuk gulma yang tumbuh di parit. Gulma yang tumbuh umumnya dari jenis daun sempit dan daun lebar, jadi mengatasinya dapat digunakan herbisida yang berbahan aktif Isopropil Amina Gliphosate (IAG) dan Metil Metsulfuron (MM) dengan mencampur keduanya, konsentrasi untuk campurannya adalah IAG 0,4% dan MM 0,02%.

G. Panen
  • Singkong dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman singkong dapat mencapai 6–8 bulan untuk varietas Genjah, dan 9–12 bulan untuk varietas Dalam.

S-e-l-a-m-a-t B-e-r-k-e-b-u-n

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar