Kamis, April 22, 2010

Mempercepat Panen Raya Cengkeh

Melejitnya harga cengkeh di pasaran tak urung membuat petani yang tadinya acuh kini kembali melirik dan mengusahakannya secara besar-besaran. Namun, harapan untuk bisa menangguk untung tiap tahun harus berhadapan dengan kendala tidak optimalnya panen raya cengkeh setiap tahun. Penggunaan NPK Grand-S yang diberikan secara teratur dan seimbang ternyata mampu mengurangi interval waktu panen raya setiap tahunnya sehingga harapan menangguk untung setiap tahun itu kini dapat terobati dengan adanya NPK Grand S-15.

Cengkeh Eugenia aromatica ini adalah salah satu komoditi perkebunan yang memiliki peranan penting dalam dunia perdagangan saat ini. Tidak kurang dari industri kecil sampai besar yang meliputi industri pabrik rokok, kosmetika, parfum, maupun rempah - rempah sangat membutuhkan komoditas ini. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang semakin meningkat, komoditas cengkeh dari Indonesia juga ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri.

Kenyataan tersebut telah memberikan rangsangan bagi para petani khususnya petani cengkeh terutama di wilayah Sulawesi seperti Sulawesi Utara, Tengah, Selatan dan Tenggara untuk kembali memperhatikan tanaman cengkehnya yang pernah terlupakan bahkan pernah dimusnahkan. Bagaimana tidak menggiurkan? penanaman cengkeh yang biasanya menggunakan jarak tanam 5 x 5 meter atau 4 x 4 meter, dimana satu pohon cengkeh mampu menghasilkan 4 – 8 kg kering dengan kadar air berkisar antara 12 – 15%, maka dalam satu hektar lahan yang berarti kurang lebih 625 populasi, bisa menghasilkan pendapatan Rp. 187.500.000,- (asumsi panen satu pohon rata-rata adalah 6 kg, dengan tingkat harga rata-rata Rp. Rp.50.000/kg).
Panen raya cengkeh yang normal hanya dapat terjadi pada interval 2-4 tahun sekali

Tidaklah mengherankan bila banyak petani yang mendapat keuntungan berlipat dari penanaman cengkeh ini. Keadaan ini sungguh kontras dengan saat cengkeh masih ditangani BPPC, dimana para petani cengkeh saat itu sangat dirugikan bahkan dengan sangat terpaksa menebangi pohon-pohon cengkehnya dan mengganti dengan tanaman baru.

Keuntungan yang didapatkan ini tentu saja tidak terlepas dari peran keberhasilan tanaman cengkeh dalam menghasilkan bunga dan buah, rendahnya pasokan cengkeh dalam negeri serta situasi ekonomi yang kondusif (dalam arti meskipun nilai pertukaran rupiah dengan dolar merugikan sektor lain, namun memberikan keuntungan pada sektor lain yang diekspor ke luar negeri). Tanpa itu, maka mustahil keuntungan tersebut dapat kita raih. Keberhasilan penanaman cengkeh sangat dipengaruhi oleh faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). Salah satu faktor internal yang turut mempengaruhi adalah munculnya bunga cengkeh.

Bila dihitung sejak pembibitan, cengkeh Zanzibar mulai berbunga pada umur 6 – 7 tahun sedangkan type Sikotok dan Siputih akan berbunga 7 – 8 tahun. Cepat lambatnya pohon cengkeh berbunga erat kaitannya dengan ketinggian tempat dari permukaan laut. Dimana semakin rendah ketinggiannya, maka akan semakin cepat pohon cengkeh tersebut berbunga dan sebaliknya. Bunga cengkeh ideal yang bisa dipanen adalah bunga yang timbul pada umur enam bulan dengan waktu pemetikan pada saat sebelum bunga mekar. Bila pemetikan terlambat yaitu pada saat bunga cengkeh sudah mekar, maka akan mengurangi kualitas cengkeh yang dihasilkan. Hal ini karena pada saat tersebut cengkeh yang dipetik sudah tidak ada kepalanya dan sebaliknya bila dilakukan pemetikan terlalu awal akan mengurangi kualitas cengkeh yang disebabkan oleh rendahnya tingkat rendemen.

Di beberapa areal cengkeh yang berhektar-hektar, ada yang dinamakan dengan istilah Panen Raya Cengkeh dan Panen kecil. Biasanya ini terdapat di daerah yang memiliki areal cengkeh yang luas dengan populasi yang tinggi. Panen Raya atau Panen besar ditandai dengan pembungaan lebat yaitu sekitar 90% atau lebih dari seluruh pucuknya telah berbunga dan jumlah bunga setiap rumpun sangat banyak. Sedangkan panen kecil ditandai dengan pembungaan yang kurang dari 50% -nya. Namun demikian, hal itu tentu saja tidak dapat dijadikan patokan bila kita memiliki pohon cengkeh yang sedikit. Bisa saja pada saat panen raya ternyata jumlah bunga yang keluar sedikit yang disebabkan oleh penyakit, hama maupun faktor cuaca. Sehingga dalam hal ini kita dapat melihat keseragaman tanaman cengkeh kita saat berbunga dalam menentukan kapan saatnya yang tepat untuk panen.
     
Kenyataan yang terjadi di lapangan adalah bahwa panen raya ini hanya terjadi 2 – 4 tahun sekali. Interval waktu tersebut bisa saja lebih lama lagi bila didukung dengan musim kemarau yang berkepanjangan. Menurut Toyib hadiwijaya (1982) mengungkapkan bahwa bila indeks produksi di tahun panen besar atau panen raya diberikan angka 100, maka panen kecil berikutnya akan menunjukkan indeks produksi : 60 – 70 % untuk tipe Zanzibar, 10 – 30 % untuk type Sikotok, dan 0 - 20 % untuk tipe Siputih. Keadaan demikian tentu saja sangat riskan bagi petani yang ingin segera menikmati hasilnya.

Persoalannya akan menjadi lain ketika disaat panen raya ternyata hasil yang kita dambakan dan kita tunggu tidak sesuai harapan. Sering didapatkannya bunga cengkeh yang hampa yang me-nye-babkan rendemen hasil menjadi rendah, merupakan salah satu gangguan yang sering didapatkan petani cengkeh.
Kasus tersebut mengundang beberapa peneliti untuk melakukan serangkaian riset yang berkaitan dan setelah dilakukan pengujian, ternyata penyebab bunga cengkeh yang hampa tersebut erat kaitannya dengan pemupukan, dalam hal ini pemupukan nitrogen, phospat dan kalium. Dari beberapa studi literatur yang telah dilakukan, disebutkan bahwa pemupukan yang cukup yang diimbangi dengan pemberian air di musim kemarau akan dapat mengurangi turunnya produktivitas akibat panen kecil.
     
Berdasarkan penyataan diatas, maka timbul suatu pertanyaan mengapa tanaman cengkeh panen rayanya hanya dapat dilakukan 2-4 tahun sekali? Untuk menjelaskan hal ini, beberapa prinsip dasar agronomi dan fisiologis tanaman dapat menjelaskan permasalahan tersebut, dimana panen raya cengkeh yang dicirikan dengan pembungaan diatas 95% akan menyebabkan beberapa hal diantaranya : (1) kerusakan pada pucuk-pucuk daun yang akan memberikan efek pada ketidakseimbangan tajuk pohon cengkeh. (2) tanaman cengkeh akan mengalami kekurangan energi akibat tingkat serapan energi yang tinggi saat pembungaan panen raya. Energi yang dimaksud disini adalah energi berupa ATP dan ADP, dimana
     
ATP atau Adenosin Tri Phosphat merupakan senyawa organik yang kaya energi dan diperoleh melalui pengubahan ADP (Adenosin Diphosphat) dalam proses fosforilasi dengan bantuan cahaya matahari. Disini jelas terlihat bahwa ternyata permasalahan panen raya juga erat kaitannya dengan keterbatasan energi dan kerusakan pada pucuk. Adanya luka/kerusakan pada jaringan daun ini pada saat panen raya secara tidak langsung akan menyebabkan energi yang ada terkuras. Energi tanaman yang berupa ADP dan ATP ini tidak selalu tersedia secara optimal padahal pada fase proses pembentukan bunga besar-besaran (90%) dan penutupan luka tersebut sangat dibutuhkan energi yang sangat besar. Adanya keterbatasan energi yang ada yang terserap ini tentu saja berimplikasi pada proses pembungaan tahun berikutnya yang tidak lagi optimal (dibawah 50%).
     
Bertolak dari asumsi bahwa pemupukan merupakan alternatif utama untuk mengatasi ketersediaan energi pada ATP dalam tubuh tanaman, telah dilakukan percobaan pemupukan secara sederhana dengan menggunakan pupuk Grand-S 15 yang dilakukan dengan menggunakan dosis 1,5 kg per pohon cengkeh setiap selang 4 bulan selama dua tahun. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara dibenamkan di sekeliling tanaman cengkeh sesuai lebar tajuk. Percobaan yang dilakukan di areal pertanaman cengkeh Kec. Tomohon, Kab. Minahasa Propinsi Sulawesi Utara ini menggunakan sampel 50 buah.
Hasil studi di lapangan menunjukkan bahwa perlakuan NPK Grand-S sebanyak 1,5 kg per pohon cengkeh yang sudah berumur 4 tahun keatas memberikan respon positif. Dimana terdapat perbedaan yang nyata antara tanaman yang dipupuk Grand S-15 dengan tanaman yang tidak dipupuk. Pada tanaman yang mendapat perlakuan Grand S-15 didapatkan hasil bahwa panen raya yang ditandai dengan dominasi pembungaan secara besar-besaran dapat dilakukan setiap tahun dengan prosentase pembungaan berkisar antara 70 – 80%. Meskipun percobaan ini dilakukan tanpa menggunakan kontrol sebagai pembanding, namun tanaman cengkeh yang lain tanpa menggunakan Grand-S-15 menunjukkan angka tingkat prosentase pembungaan yang rendah yaitu hanya mencapai 30 – 40% saja.

Peranan Grand S-15 dalam pembentukan protein dan asam nukleat
     
Berdasarkan hasil percobaan sederhana tersebut, dapat disimpulkan bahwa pupuk NPK Grand-S-15 ini dapat mensubstitusi kebutuhan energi dalam bentuk ATP dan ADP setiap saat pada tanaman cengkeh sehingga mampu mengurangi interval panen raya dari 2 – 4 tahun menjadi hampir setiap tahun.
Pupuk NPK Grand-S ini terdiri dari tiga unsur makro utama yaitu Nitrogen (N), Phospor (P) dan Kalium (K) dengan kandungan berimbang yaitu N = 15%, P = 15% dan K = 15%. Disini perlu kami jelaskan secara teoritis bagaimana mekanisme biokimia dari tiap-tiap unsur baik N, P maupun K dalam Grand-S sehingga menjadi informasi mengapa pupuk Grand-S ini dapat mengurangi interval waktu panen raya atau dengan kata lain dapat mempercepat waktu panen cengkeh.

Nitrogen (N)
     
Djayadirana (2000) mengungkapkan bahwa Nitrogen merupakan zat lemas sebagai unsur penting bagi pertumbuhan tanaman khususnya dalam pembentukan atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti daun, batang dan akar. Semakin tinggi kadar nitrogen, maka semakin cepat pula sintesis karbohidrat yang terjadi. Tanaman menyerap unsur N dalam bentuk NO3- dan NH4+. namun ion mana yang diserap lebih dahulu tergantung dari keadaan pH tanah. Pada pH diatas 7, maka ion NH4+ yang lebih cepat diserap, sedangkan bila kondisi tanah mempunyai pH dibawah 7, maka justru ion NO3- lah yang lebih cepat diserap oleh tanaman. Hal ini disebabkan karena pada pH diatas 7 (basa) terdapat ion OH- sehingga saling bersaing dengan ion NO3- yang sama-sama memiliki muatan negatif. Sebaliknya pada pH rendah dengan tanah bersifat asam banyak terdapat ion H+ yang akan bersaing dengan NH4+ yang sama-sama memiliki muatan positif, sehingga peluang ion NO3- lebih besar untuk diserap. Manfaat unsur N bagi pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pada pertumbuhan vegetatifnya. Peran N dalam pupuk NPK Grand-S dapat dijelaskan pada gambar 1.
     
Protein dan asam nukleat yang dibentuk oleh N dalam pupuk Grand-S tersebut digunakan untuk pengisian inti sel yang terus membelah diri menjadi ber-kembang dua kali lipat, dan seterusnya. sehingga pertumbuhan vegetatif tanaman berjalan secara normal. Keadaan inilah yang bisa menutupi dan mengganti pucuk-pucuk yang rusak saat panen raya dalam waktu yang singkat, sehingga siap untuk proses pembungaan selanjutnya.

Phospor (P)
     
Phospor merupakan unsur makro yang dibutuhkan tanaman untuk menyusun protoplasma dan inti sel. Unsur ini diserap oleh tanaman dalam bentuk H2PO4- dan HPO42-. Fungsi utama dari unsur ini adalah mempercepat pertumbuhan akar semia, mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi dewasa, mempercepat pembungaan dan pemasakan biji, dan meningkatkan produksi biji. Dari ketiga macam ion tersebut, yang paling mudah terserap akar adalah berupa ion H2PO4-, karena bermuatan satu sehingga tanaman hanya membutuhkan energi yang lebih sedikit dibandingkan ion H2PO4- maupun PO43-. Adapun pentingnya unsur P bagi tumbuhan adalah : (1) sebagai senyawa utama untuk membentuk ATP dan ADP yaitu senyawa yang dihasilkan pada proses respirasi siklus kreb sehingga tanaman mampu melakukan semua aktivitasnya seperti pembungaan, pembelahan sel, pembesaran sel dan transpirasi maupun absorbsi (penyerapan). (2) membentuk DNA dan RNA untuk pembentukan inti sel, (3) membentuk senyawa fosfolipid yang berfungsi dalam mengatur keluar masuknya zat-zat makanan dalam sel. Implikasi dari teori biokimia ini mengarah pada kesimpulan bahwa fungsi P erat kaitannya dengan waktu panen cengkeh. Hal ini disebabkan karena phospor sangat dibutuhkan tanaman cengkeh pada saat mulai berbunga/ proses pembungaan. Sehingga wajar bila pada fase ini kekurangan unsur P akan mengakibatkan proses pembungaan menjadi terhambat.

Kalium (K)
     
Kalium merupakan unsur utama yang dibutuhkan tanaman yang sangat penting perannya dalam pembentukan protein dan karbohidrat, mengeraskan jerami dan bagian kayu, mening-katkan resistensi terhadap hama dan penyakit tanaman serta meningkatkan kualitas biji atau buah. Unsur kalium diserap oleh tanaman dalam bentuk K+. Dalam beberapa sumber, dijelaskan pula bahwa peran K yang penting dalam tanaman diantaranya sebagai elemen penting yang bersifat higroskopis (mudah menyerap dan menahan air) unsur K biasanya terdapat pada stomata daun. Dengan sifatnya yang higroskopis tersebut, Kalium mampu membuat persediaan air yang ada dan dibutuhkan untuk proses transpirasi, fotosintetis, absorbsi, maupun transportasi unsur hara dalam tanaman tersebut menjadi optimal. Dalam hubungannya dengan tanaman cengkeh khususnya pada saat panen raya, unsur kalium ini sangat berperan penting untuk proses fotosintesis. Hal ini karena keberhasilan dalam fotosintesis yang menghasilkan C6H12O6 ini digunakan tanaman untuk meningkatkan produktifitasnya (berbuah lebat) untuk setiap tahunnya. Dalam reaksi kimia saat pembentukan C6H12O6 yang terbentuk dari air dengan CO2 tersebut , supplay Kalium sangat penting. Tanpa ada unsur ini maka pembentukan zat pati pada proses fotosintesis menjadi terhambat akibat tidak adanya unsur yang mampu mengikat dan menahan air yang biasanya dilakukan oleh K.
     
Dengan kandungan unsur N, P dan K yang seimbang yang juga disertai unsur mikro lain sebagai penunjang, maka jelas bahwa pemberian Grand S-15 ini akan membantu mempercepat panen raya tanaman cengkeh. Harapan penulis, semoga tulisan sederhana ini dapat bermanfaat bagi para petani cengkeh khususnya pembaca pada umumnya.

(Ir. Menas Tjionger’s , MS penulis adalah pemerhati pertanian berdomisili di Makassar)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar